Jilid 1: Menapaki Gunung Gede Via Selabintana yang tak berkesudahan

travel teaches tolerance

Rate this:

Advertisements

Selabintana ❤ ❤

20160528_080129

inilah kesan kami selama perjalanan dengan tracking terpanjang dan tersuram diantara beberapa jalur seperti cibodas dan gunung putri. Gerbang pendakian yang tidak terlalu ramai dengan maksimal quota sebanyak 100 orang, jalur ini juga kurang diminati banyak orang selain karena tracking nya panjang, trek nya yang cukup curam, hampir tidak ada jalan yang landai.

Pendakian Gn. Gede yang cukup berkesan karena kami kedatangan teman baru (Hendri, Arie, Wirna, Akmal) yang sebelumnya ada yohana dan Akmal Syarif. Pendakian kami diawali atas keisengan untuk mendaftar naik gunung gede oleh teman Fadli dan Fajri, tapi diujung keberangkatan fadli batal ikut rombongan karena dengan alasan kampus yang sangat urgent (entah iya entah ngk).

2016_0529_01293900
Hatur Nuhun fadli ❤

Oh ya, seminggu sebelum keberangkatan kami harus mengirim KTP dan kartu keterangan sehat yang dikeluarkan oleh klinik atau rumah sakit. Semua diurusi oleh ketua yang sangat gesit yakni akmal.

Jumat malam 27 mei 2016

Kami  meluncur menuju terminal sukabumi yang merupakan meeting point. Aku dan kamal berangkat dari bandung, sedangkan akmal dan teman lainnya berangkat dari ibukota. Pada pukul 11:00 malam,  aku & kamal terlebih dahulu sampai, kami pun menunggu disalah satu pos jaga diterminal.

Pukul 01:00 dini hari kami semua berkumpul, kemudian akmal ( kepala rombongan) mulai menyewa angkot menuju posko selabintana. dengan kondisi jalan bebatuan dan licin, kami sampai di posko utama selabintana pukul 02:30. Sebelum masuk ke posko kami pun mampir beristirahat makan, shalat dan beberes di sebuah warung yang juga bisa digunakan untuk beristirahat. Kondisi badan yang kurang bersahabat, karena kurang istrahat ditambah dingin yang membabi buta, sedikit membuat capek.

Akses bandung-sukabumi(Selabintana)

Bandung-sukabumi

Untuk teman teman yang dari bandung bisa berangkat dari terminal leuwi panjang, naik MGI dengan ongkos Rp. 30.000 Kemudian turun di terminal sukabumi, dari terminal sukabumi bisa sewa angkot menuju gerbang selabintana, dengan tarif Rp 10.000 perorang.

 Sabtu, 28 Mei 2016                                                                                 Pagi : 08:00 Am

Selabintana cukup sekali, kami mulai pendakian jam 08:00, lapor ke posko sembari menerima wejangan dari kepala posko setempat. Kami berkumpul untuk berdoa dan pemanasan, sementara beberapa penjaga pos memeriksa simaksi yang sudah kami persiapkan. Bersama dengan grup pendakian yang berjumlah kurang lebih 25 orang kami bergerak untuk memulai pendakian Gn gede.

jalur-salabintana-gede-pangrango
Peta jalur Pendakian selabintana

DSC01295

 

2016_0527_19594500

Memasuki jalur pendakian, kami di disuguhi dengan ranting pepohonan yang cukup menghalangi perjalanan, menelusuri punggungan dengan kontur menanjak tajam, hampir tidak ada yang datar. Sambutan yang luar biasa SELABINTANA. Sepi hanya kami bertujuh, keringat yang mengucur deras, membasahi tiap lekukan tubuh yang seksi, basah karena humus yang lembab dan yang paling luar biasa sepanjang perjalanan banyak ditemui PACET  yang mengelinjang (^_^).

20160529_102038

Ari dengan sigap mengeluarkan minyak sereh yang ampuh untuk menghalau serangan pacet yang sangat aduhai di pelipis pohon kayu besar berakar. Sebelum berangkat pun saya sempat mengolesi minyak sereh di seluruh bagian tubuh yang terbuka walaupun minyak ini beraroma  seperti minyak nenek nenek jaman dahulu kala ( Minyak nek lampir ), hahaha jadi para pacet sirna luluh lantah.

2016_0528_01180400

pondok cigeber

Pukul 12:00 am kami beristirahat dilahan yang lumayan datar berada dipunggungan cigeber. Dengan menggelar tikar kami pun beristirahat makan dengan bekal yang telah kami persiapakan sebelum kami berangkat tadi pagi. Satu jam beristirahat tak satupun pendaki yang lewat  melewati jalur selabintana. Dengan jalaur yang wassalam wajar sepi pendaki yang melewati selabinta. emng selabinta yang sangat luar biasa.  😦 😦

 2016_0527_22153400Para teman yang bercanda dengan senyum yang membuat perjalanann penuh semangat, nutrijel yang membantu kami dari kehausan, dan lucunya akmal mengeluarkan sebungkus plastik kecil yang berisi dodol picnik, hehe,sungguh mengesankan. Kepikiran ya bawa dodol!!! tau gitu saya bakalan bawa ubi cilembu ,,hahahah

Dari puncak cigeuber jalan kami lanjutkan berupa jalan menurun sempit, disitu ada pita police line, sepertinya daerah penangkaran margasatwa. Konon beberapa dari blog yang pernah saya baca, disini ada beberapa harimau. SELABINTANA ADUHAI ANCOL ❤

2016_0528_22130800

2016_0528_04282900

20160528_085128

Tidak ada yang saling egois untuk mendahului, bahkan seringkali saya ditunggu beberapa teman karena jauh ketinggalan. Perjalanan masih panjang, hanya saja kaki sedikit pegal, dan sesaat saya hampir menyerah,sudah ngak sanggup (Malu mengingat), Akmal, yohana, arie, dan wirna menjadi team terdepan dan saya, hendri dan kamal team back tengah. Sesekali saya selalu menggoda hendri,, masih jauhkan ?? selalu beribu pertanyaan dan harapan akan segera sampai di surya kencana.

Menyerah..hampir jam 3 sore kami pun masih belum sampai. Disatu shelter cileutik kami pun beristirahat sejenak meluruskan kaki dan pinggang yang pegel. Disini kami bertemu dengan team yang lain. Berkumpul bersama melepas lelah dari perjalanan panjang yang gilaaaa.Sedikit turun di bawah pos yang sudah roboh ini terdapat sungai yang aliran air nya kecil dan membentuk air terjun mini. Bila tidak terlalu dingin bisa mandi di sungai ini. Di lokasi ini beberapa pendaki bisa beristirahat bersama namun tidak cukup untuk mendirikan 2-3 tenda.

setelah melepas haus kemudian hendri memulai  beralih diposisi terdepan dengan kamal dan yohana. Mereka memilih untuk berangkat terlebih dahulu, biar bisa bikin tenda. akmal, arie, wirna dan saya menyusul setelah beberapa waktu kemudian. Di 1/3 menuju puncak, trek yang kami lewati nyaris gila, dengkul ketemu kepala dan seketika akmal kram dan saya pun selalu bilang ingin menyerah. Untung ada wirna yang bersedia mengantikan carrier dan arie yang selalu menyemangati di garis akhir sambil menawari madu yang membuat tambahan tenaga.ahhhhh sudahhh,,saya tidak ingin mengingat bagaimana kami diterpa badai di sore hari, dan akmal yang hampir masuk ke jurang. Seketika saya makin ingin bilang saya tidak ingin naik gunung 😦

Lagi lagi  hampir per 15 menit saya beritirahat, kaki dan helaan nafas sudah tidak bernyawa untuk bergerak. Sesaat kami bertemu dengan team anggota lain yang juga akan menuju puncak Gn,gede, beberapa diantaranya ada yang tumbang (not me)

Pukul 8 malam menuju Surya Kencana

Menyerah,,saya menyerah, ( gw nyanyi D masiv dulu kali ya )

itulah kata yang selalu saya lontarkan keteman2. Bukan karena apa2, punggung yang mulai kaku telinga mulai berdenging dan baju yang dipakai membuat badan dingin dan kaku. Dipenghujung pendakian saya mendapati trek yang ngak masuk akal, hampir dan nyaris saya kehilangan tenaga, berasa mau pingsan, bepegangan dengan bantuan akar pohon sesekali arie membantu dengan cukup kuat, thanks arie. Madu yang sangat membantu menambah tenaga, 15 menit menuju puncak, untung saya dijemput oleh kamal yang terlebih dahulu sampai, nyaris  mau pingsan.

Pukul 08:30 kami pun sampai di posko penginapan, tenda baru 1 yang dipasang, karena kondisi badai yang cukup membuat sulit untuk mendirikan tenda. Kami mendirikan 2 tenda yang saling berdekatan satu sama lain. Sementara yang lain sibuk mendirikan satu tenda lagi, para srikandi pun sibuk mempersiapkan makan malam. Malam ini dengan menu indomie telur ala padang + nugget dan telur dadar. Setelah tenda siap dipasang, semua bersiap makan malam. Dengan kondisi seadanya, cuaca dingin nan ekstrim, semua makanan cukup laris manis. Efek masuk angin membuat perut saya sedikit ngk enak badan, beberapa alumunium foil, saya balutkan ke badan dan kaki untuk menghindati hipotermia. Coklat hangat, energen jahe dan beberapan minuman hangat lainnya, habis kami lahap.

( ana, wirna masih sibuk ngobrol asik,,sementara saya lansung berbaring tidur) dan malam semakin larut menuju fajar.

Malam yang dingin seribu cerita selabinta, serinai senja, angin malam yang membelai kulit, disini memilih rindu untuk berkisah selabintana.

Total perjalanan yang kami tempuh dengan tracking sepanjang 11 km dengan waktu tempuh 12-13jam dengan jalur berupa 70% tanjakan naik , 15% tanjakan landai , 15 % menuju puncak tanjakan tajam tanpa ampun.

2016_0528_23200800

Terimakasih Selabintana, medan yang tragis, pengorbanan jalan 13 jam, pacet yang siap menghisap darah, Punggungan bukit yang terjal, Bibir jurang yang curam, Badai Selabintana, Tanjakan tajam, kapok untuk kesini. Ngak lagi2

Selabintana Nan elok, jalurmu tidaklah salah, hanya kami sedikit keliru, ceritamu tidak menakutkan, berkesan dalam 13 jam perjalanan. Tapi kesini bukan alasan untuk kembali ❤

berlanjut ya, karena penulis cukup lelah mengutarakan isi hati diselabintana 🙂 🙂

4 thoughts on “Jilid 1: Menapaki Gunung Gede Via Selabintana yang tak berkesudahan

  1. UWOOO.. Bagus tuh. Sayangnya mana foto keindahan salabintaa-nyaaa?? -_- dari tadi cuma foto pantat sama sepatu. 😀 hahaha jangan-jangan penulisnya kecapekan juga buat memfoto :p wikikik
    :/ saya ambil beberapa foto yg ada ya. buat my next artikel 🙂 thanx before
    NB ditunggu lanjutan bab 2. call me in my blog ;D haha

    1. saking kecapekannya,,saya kesulitan ide mengutarakan bagaimana berkesannya selabintana 11 km, ditunggu cerita dari selabintana bab 2,,bakalan ada foto yang menakjubkan,,hahaha , iya silakan barangkali bisa saling sharing. semoga bab 2 selabintana akan segera publish 🙂

Comments are closed.