Maka temui aku diantara tetesan embun pagi

Searahangin's Weblog

morning_dew

Hari ini, Bumi sungguh sama saja seperti kemarin, kemarin lusa, minggu lalu, bahkan tahun lalu. Bahkan setelah badai mengamuk senja, petir-petir menelanjangi angkasa, selepas vulkano-vulkano itu bersenggama, dia masih saja sama. Esok, katanya pula, mentari ku akan masih tetap disana, terbangun di ujung timur ranjangnya, merah karena terbakar hangatnya, tapi masih merajuk malu pada gemintang dan tuan rembulan ku. Esok, lanjutnya pula, bahkan tanpa kau tau, kami damaikan isi perut kami sendiri, dan kau tak perlu tau.

Saat ku datang menemuinya malam itu, dia sedang tidak dalam gaum malam terbaiknya, dia malu, ucapnya. Pelan ku geser daun pintu, hingga hanya raut wajah yang telah terhias yang dapat ku tatap. Aku menawan bukan, jujur sorot mata mu menyampaikannya, bahwa kau tertawan oleh ku, lanjutnya. Tapi tidak, tidak malam ini, sahutnya lagi dengan seukir senyum yang tak akan mampu ku kalahkan. Dan aku kalah.

Datang lah besok pagi, serunya, selepas malam iniā€¦

View original post 145 more words

Advertisements