Travelling

izinn reblog sista 🙂

Searahangin's Weblog

Malam itu, hidup menuntut ku menggumuli nasip. jam yang melingkari pergelangan tangan yang makin menulang mulai tampak membayang. malam telah mengkupi bumi dengan sempurna. 11.23 pm. disebuah kota gersangang bertanah merah. namun tampaknya tak satu pun dari detak bumi yang mengganggu mereka. klinik bersalin, entah apa namanya aku pun lupa. langkah masih ku atur menapaki lantai putih menuju pintu keluar. exit. begitu yang tertulis pada pagu di atasnya. namun sebuah baligo kecil menghentikan langkah ku.

aceh_028

Rabbi, kenapa bunda menangis

Seorang anak kecil bertanya pada Tuhannya:

Rabbi, kenapa bundaku sering menangis?

Allah menjawab,

Karena ibumu seorang wanita…

Aku ciptakan wanita sebagai makhluk istimewa

Aku kuatkan bahunya untuk menyangga dunia

Aku kuatkan hatinya untuk memberi rasa aman

Aku kuatkan rahimnya untuk melahirkan benih manusia,dan

Aku tabahkan pribadinya, untuk terus berjuang saat yang lain menyerah

Aku berikan dia rasa sensitive untuk mencintai putra putrinya

Akau tanamkan rasa sayang yang akan menina bobokan…

View original post 94 more words

Advertisements
Travelling

Searahangin's Weblog

Takut dan sesal

Cerita seorang sahabat yang datang pada ku beberapa hari lalu, membawa ingatan ini kembali pada sebuah roman lama, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, oleh Buya Hamka (Sang Maestro). Ingatan ku kembali pada sosok Zainuddin yang membentang harapan luas akan tanah Minangkabau nan rupawan, nun jauh dibalik lautan. Harapan itu pudar, jikala telah sampai ia ke tanah asalnya itu. ia tek teraku minang, bukan lah pula bugis, di rantau badan tersisih, pun di rumah badan tak berharga. Konon Hayati, nama seorang bunga desa, keturunan Datuk, bergelar berkedudukan terpandang di tanah Minang, ini lah penyambung nyawa Zainuddin dan merenggutnya kembali setelahnya.

30 November 2008, siang itu aku tengah dialun lamunan, setelah badai dimalamnya mengamuk pikiran, mata urung dapat terpejamkan, ingin rasanya petang itu kuhabiskan untuk menenangkan kepala. Sahabatku datang dalam ketergesaan, namun wajahnya begitu kelam dirundung malang.

“Hai…masuklah saudara ku, ada apa gerangan, hingga dipetang nan bermandikan cahaya ini, kau jadikan kelam…

View original post 553 more words