Posted in Story

Sebuah Maksud

Yang mancari yang benar- benar  bermaksud

Tidaklah ada yang salah dengan usaha,
tidak juga dengan besarnya doa
hanya saja kemaksimalan usaha tersebut
bisa jadi sejalan atau bisa jadi cukup menyerah

proses bisa jadi berubah
hanya karena ego dan cara menilai
mereka sering kali menafsirkan
yang terlihat itu yang ternilai
bukan dari hati dan sisi lain

kadang sebuah pengharapan
justru melibatkan banyak keputusan yang sulit
terkadang melibatkan pikiran yang masing masing punya pembenaran

dua menjadi satu
simboyan  dua keluarga menjadi satu kesatuan yang utuh
hanya saja itu sebuah yang fiktif

berfikir tentang
kita yang masih sejalan atau hanya cukup disini
Wallahualam bagaimana itu Jodoh

Advertisements
Posted in Travelling

Menelusuri Pantai Penyusuk, menusuk batas Hati

Disini , tentang bagaimana aku yang belum bisa Pulang

14595600_10210607171246035_9043947187580349555_n
Pantai Penyusuk

setelah beberapa hari stay dibangka, saya pun mulai untuk mencari tempat2 yang wajib didatangi kalau ke bangka. Imfo dari teman2 Geologist setempat, saya disarankan untuk mengunjungi pulau Putri. Oke, saya pun berencana ke pulau putri.

Dari Camp saya berangkat dengan driver andalan yang super baik , Bang Eko. Dia guide saya selama saya di bangka sejak tahun lalu. Sebagai imforman yang updated, kita pun memilih untuk mengeksplore Pantai Penyusuk. Pantai Penyusuk berjarak 2 jam ( 90 km ) dari sungai liat.dengan jalanan beraspal.

aRute Sungai Liat – Belinyu

Perjalanan beraspal sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi dengan pemandangan yang berganti ganti sepanjang perjalanan, ada lokasi penambangan timah yang dikelola secara sederhana oleh masyarakat lokal, ada pula perkampungan penduduk etnis cina, perkampungan melayu serta perkebunan cengkeh dan jambu mete. Sebelum mencapai pantai, perjalanan kita dimanjakan dengan pemandangan lautan biru di sebelah kanan serta menyaksikan pantai dari atas jalan perbukitan. dengan kondisi baik kami pun sampai di Ujung paling utara Pulau bangka. Cuaca sedikit rada mendung ( bukan Hujan ),

14484981_10210529674548666_7506140383911640514_n
Perkebunan cengkeh yang habis terbakar
14568076_10210529675668694_1846493823178838764_n
Perkebunan Cengkeh

Selain perkebunan cengkeh, mata di suguhi dengan pantai biru dengan kapal keruk penambang timah yang ramai di pinggir pantai.

Setelah membayar tiket masuk  Rp 5000/ orang, kami pun Sampai di lokasi Pantai penyusuk. Cukup sepi disisni, karena masih pagi, dan beberapa pendatang dari luar daerah sibuk berselfie ria di antara bebratuan granit putih.

Sebenarnya saya ingin ke pulau putri, sayang waktu itu ngk bisa, karena cuaca yang kurang mendukung, dan ombak yang pasang. alhasil saya dan bang eko hanya bibir pantai.

14449816_10210529669988552_7345394900339260813_n
Pantai Penyusuk

Bebatuan granit di pantai ini lebih banyak dari pada pantai lain di pulau Bangka, bahkan dapat dikatakan, hampir 70 %  pantai yang terbentang seluas ± 4 km ini tertutupi batu granit. Di tengah pantai terdapat batu granit yang menjulang dan sangat besar, sehingga pengunjung sering mendaki batu tersebut untuk kemudian bersantai menikmati ombak laut yang menghantam bebatuan.  Bebatuan ini seolah membelah laut menjadi 2 bagian, dimana bagian utara ombaknya sangatlah besar, karena berbatasan langsung dengan Laut Natuna sehingga pengunjung tidak disarankan untuk berenang di bagian ini. Sedangkan sebelah barat, gelombangnya lebih tenang karena tertutupi oleh pulau pulau yang berjejer dihadapan pantai, sehingga pengunjung dapat dengan leluasa membawa keluarga untuk berenang.

14517562_10210529673188632_7933300323619393622_n
Berada diatas batuan granit
img_0076
Cuaca mendung Sepanjang Perjalanan

img_0084

img_0010

setelah menelusuri hampir 2 jam, saya pun memutuskan untuk kembali ke Camp. Sedikit kecewa karena tidak bisa menyebrangi pulau putri, Mudah2an dikesempatan lain kita ekplore secara keseluruhan kawasan Bangka Utara

Kesini, ada alasan untuk kembali

Bangka, September 2016

Posted in Travelling

Perjalanan Survei~ Sungai Liat

Survei dipulau Bangka kali ini berada di sekitar sungai liat. Sungai liat secara administrasi berada di kabupaten Bangka bagian utara, sepanjang pesisir selatannya  terdapat  pantai pantai yang sangat bagus. Mari sambil Menyelam minum Air

Saya mendarat di Bandara dipati Amir Pukul 08.00 Am, perjalanan  jakarta – Pangkal Pinang selama kurang lebih  50 menit. Bandara yang minim fasilitas yang menampung 350 orang ini merupakan bandara satu-satunya di Pangkal Pinang. Mudah2an tahun ini Bandara baru, rampung dan siap beroprerasional dengan infrastruktur dan fasilitas yang baik.

dscn0111
Dipati Amir Airport

dari Bandara Dipati Amir team melanjutkan perjalanan ke Sungai Liat. Selama kami melakukan survei kami akan tinggal di mess PT. Timah yang berada tidak jauh dari area kami survei. Dari Sungai Liat Perjalanan dilanjutkan ke Mess PT Timah selama 1 jam.

14449009_10210433785991512_4970363859446059425_n
Mess PT. Timah Pemali

kami tinggal selama 20 hari di Mess ini. Sekilas terlihat horor karena  bangunan ini peninggalan belanda yang sampai sekarang masih dimamfaatkan untuk mess karyawan PT. Timah. Beberapa bangunan masih kokok, sayang hanya beberapa yang masih dipertahanakan. Pohon yang tinggi, angin kencang, hujan badai seketika lampu mendadak mati jadi lah suasana super magic dan saya lebih senang berdiri dipintu rumah sambil menunggu teman2 dari lapangan pulang.

Sementara di mess sepi orang, saya dan bang eko ( Guide tim di bangka) pergi menelusuri Pantai Parai yang berada 9 km dari lokasi survei kami. hanya 10 menit dari camp kami.

bangkabelitung-088

Setelah membayar tiket masuk Rp 25.000 Per orang, saya dan bang eko berjajaln menelusuri pantai yang berpasir putih dan batuan granit yang sangat indah.

14520598_10210512132630129_7279545196828800013_n

Panorama pantai yang indah dapat Anda saksikan tatkala menaiki bebatuan granit tersebut, menyuguhkan Anda keindahan Laut Cina Selatan yang teduh. Ada banyak kegiatan wisata menarik yang dapat dilakukan, di antaranya banana boat, parasailing, hingga snorkel di Parai Tenggiri, dan saya hanya memilih menikmati view  parai tenggiri.

panorama yang eksotis dengan hamparan batu granitnya yang khas. Seperti pantai Bangka lainnya, pantai Parai Tenggiri juga memiliki bebatuan granit yang berukuran besar dalam aneka bentuk yang unik dan berjumlah banyak.

Indahnya langit biru, pantai berpasir putih, rayuan pojon kelapa dan barisan granit yang berjejer indah di bibir pantai sungguh panorama yang sangat memikau.

Fasilitas yang cukup lengkap, dengan view yang apik dari berbagai sisi, dan sangat indah pas untuk destinasi wisata.

Noted :

  1. berjarak 40 Km dari pangkal Pinang dan 10 km dari kota sungai liat
  2. Bisa menggunakan Mobil Pribadi ataupun motor
  3. Dari parai bisa mampir ke Pantai Rambak dan Pantai Tanjung pesona yang ngk kalah bagusnya
  4. Jangan Lupa mampir culinary di Raja Laut yang menyuguhi makan seafood selera Bangka
  5. Cicipin Kenikmatan kopi Tungtau yang melegenda.
Posted in Travelling

jilid2 ~ Lembah menawan Surya Kencana- menuju Puncak Gn.Gede

2016_0528_23200800

hamparan bunga edelwis yang indah, awan putih yang menawan, hutan cantini nan elok ~ surga para pendaki untuk menapaki puncak Gn gede.

melanjutkan cerita yang belum berakhir Selabintana, sesuatu yang sangat indah. indah dengan awan putih, badai, dan kicauan burung di dalam hutan yang basah. Indah karena perjalanan yang panjang dengan banyak cerita, tidak semua orang mungkin yang mau memilih jalur sepanjang ini. tapi meninggalkan cerita indah, cerita selabintana ❤

Minggu 29 Mei 2016 

Pagi masih dalam balutan sleeping bag. 3 lapis kaos kaki dengan balutan alumunium foil yang masih hangat menyelimuti kaki yang dinginya luar biasa. Suasana didalam tenda masih saja hening  diantaranya masih terlelap dalam mimpi indah selabintana

IMG-20160615-WA0008
camp surya kencana
Jpeg
beberes camp

Inilah camp kami yang berada 200 meter sebelum lembah surya kencana. Disini cukup mendirikan 2-3 tenda, dengan kondisi yang seadanya (toilet) dan karena ada pohon, disini cukup baik untuk kami mendirikan camp dan cukup aman dari hembusan angin pegunungan.

Sekilas bayangan para pendaki berada jauh di atas puncak gunung gede, sayang hasrat kami untuk melihat sunrise hanya sebatas keinginan. Pukul 7 pagi, beberapa masih ada yang tidur karena capek dan teman lainnya seperti ana, wirna dan kamal mulai menghidupkan katel, memasak air, menanak nasi dan menggoreng kudapan sosis, memasak beberapa kaleng ikan sarden. Kali ini kopi susu torabika dipilih sebagai penyuguh lidah yang masih dingin brrrrrrrr…

DSC01351
Camp selabintana

Dengan wajah yang masih sayu, satu persatu mulai beberes, packing, melipat tenda dan bersih2 area sekitar camp. sampah anorganik dimasukan kedalam trash bag dan dibawa turun keposko lapor.

Pertempuran pun dilanjutkan menuju puncak Gn.Gede. kabut tebal menemani perjalanan. disini terdapat hamparan luas edelwis yang sangat indah. terlihat diujung kanan para pendaki lain banyak mendirikan tenda dan ada aliran air bersih yang dapat digunakan untuk keperluan minum. Sensasi dingin ala pegunungan cukup menusuk kulit saat berkemah di sini. jadi untuk teman2 disarankan berkemah disebelah barat yang cukup aman dari hembusan angin.

Dipadang edelwis yang sangat luas ini kami menyempatkan berfoto, Akmal sebagai juru bidik dan Yohana sebagai video record moment kebersamaan kami.

20160529_103815
3 srikandi Selabintana di lembah Surya kencana
DSC01373
7 travelmates Selabintana di Hamparan lembah surya kecana

Lembah surya kencana

2016_0528_23182600
lembah surya kencana

Dipinggir bagian utara menuju Puncak, terdapat sungai kecil yang mengalir. airnya cukup bersih, beberapa aqua yang kosong, kami isi air untuk perjalanan menuju Puncak.

Perjalanan Surya kencana-Puncak gede lumayan menambah seksi betis kami. pemandangan dalam hutan yang ditumbuhi cantini menambah eksotis indahnya Gn.Gede. Setengah perjalanan menuju puncak, stok makanan ringan menjadi energi kami, aqua dan ciki2 taro menambah semangat teman2 apalagi saya yang super capek 😀

Menuju puncak G.Gede

uhhahhuhhh…. ayoo,, ujung bukit hampir saja terlihat dari sini..cuma beberapa ratus meter namun,sedikit tenaga untuk pantang menyerah.  Ratusan anak tangga yang berbatu sampai ujung puncak Gn Gede. Perjalanan 2 jam surya kencana akhirnya sampai lah kami di Puncak Gn Gede. semua wajah sumringah, aura senyum yang mengembang dan tawa yang pecah dari semua kawan bersorak riuh. cuaca yang mendung, disini kami hanya dapat menikmati angin gunung yang begitu dingin, dengan kabut awan yang tebal. gerimis mengundang  canda.

2016_0529_01062700
Harapan besar menuju puncak

Rasa pegel, capek hilang seketika setelah kami menapaki puncak Gn gede ( 2958 MPDL). Suara riuh, senyum senang terlihat setelah perjalanan panjang 14 jam yang aduhai. sayang awan tebal menutupi pemandangan dibawah sana. Puncak gunung gede terlihat memanjang, berbeda dengan puncak gunung pangrango yang runcing sempurna. di puncak gunung gede ini akan tercium aroma belerang yang kadang kala sangat menyengat hidung. Kawah gede ini terdiri dari Kawah Ratu dan Kawah Wadon

Copy of 2016_0529_01285100Puncak Gn. Gede

2016_0529_01102000

2016_0529_01315700

Puncak Gn. Gede

awal tebal Puncak gunung gede

Setelah istrahat minum dan menikmati puncak Gunung gede, beberapa duduk meregangkan kaki, dan beberapa teman lainnya mengabadikan moment2 di gunung gede. Ini belum berakhir(kyakyaaaaaaaaaaaaaaaa). masih ada perjalanan selanjutnya yang melelahkan.

untuk teman2 jangan lupa bawa sampah nya turun ya, jaga gunung biar tetap Indah.

Gunung itu seperti Ibu, dia adalah tempat pelarian terbaik disaat diri kita sedang membutuhkan semangat baru ~ sun dari saya untuk semua teman teman :* :*

next masih ada cerita perjalanan dari Puncak menuju posko akhir cibodas.

 

Posted in Story

Tentang Kita dan Kopi

14115577_10207453362513957_5933263517100796018_o

kopi, Puisi

Ketika dua dan tiga cangkir kopi

berkumpul untuk merayakan sepi

puisi ada ditengah-tengahnya.

 

Di musim yang rusuh ini

kota dan kita rentan bencana

kamu dan aku rentan gila

 

kita ini secangkir kopi

kamu cangkirnya, aku kopinya

peminumnya adalah malam, hujan dan puisi ❤

Posted in Travelling

Jilid 1: Menapaki Gunung Gede Via Selabintana yang tak berkesudahan

Selabintana ❤ ❤

20160528_080129

inilah kesan kami selama perjalanan dengan tracking terpanjang dan tersuram diantara beberapa jalur seperti cibodas dan gunung putri. Gerbang pendakian yang tidak terlalu ramai dengan maksimal quota sebanyak 100 orang, jalur ini juga kurang diminati banyak orang selain karena tracking nya panjang, trek nya yang cukup curam, hampir tidak ada jalan yang landai.

Pendakian Gn. Gede yang cukup berkesan karena kami kedatangan teman baru (Hendri, Arie, Wirna, Akmal) yang sebelumnya ada yohana dan Akmal Syarif. Pendakian kami diawali atas keisengan untuk mendaftar naik gunung gede oleh teman Fadli dan Fajri, tapi diujung keberangkatan fadli batal ikut rombongan karena dengan alasan kampus yang sangat urgent (entah iya entah ngk).

2016_0529_01293900
Hatur Nuhun fadli ❤

Oh ya, seminggu sebelum keberangkatan kami harus mengirim KTP dan kartu keterangan sehat yang dikeluarkan oleh klinik atau rumah sakit. Semua diurusi oleh ketua yang sangat gesit yakni akmal.

Jumat malam 27 mei 2016

Kami  meluncur menuju terminal sukabumi yang merupakan meeting point. Aku dan kamal berangkat dari bandung, sedangkan akmal dan teman lainnya berangkat dari ibukota. Pada pukul 11:00 malam,  aku & kamal terlebih dahulu sampai, kami pun menunggu disalah satu pos jaga diterminal.

Pukul 01:00 dini hari kami semua berkumpul, kemudian akmal ( kepala rombongan) mulai menyewa angkot menuju posko selabintana. dengan kondisi jalan bebatuan dan licin, kami sampai di posko utama selabintana pukul 02:30. Sebelum masuk ke posko kami pun mampir beristirahat makan, shalat dan beberes di sebuah warung yang juga bisa digunakan untuk beristirahat. Kondisi badan yang kurang bersahabat, karena kurang istrahat ditambah dingin yang membabi buta, sedikit membuat capek.

Akses bandung-sukabumi(Selabintana)

Bandung-sukabumi

Untuk teman teman yang dari bandung bisa berangkat dari terminal leuwi panjang, naik MGI dengan ongkos Rp. 30.000 Kemudian turun di terminal sukabumi, dari terminal sukabumi bisa sewa angkot menuju gerbang selabintana, dengan tarif Rp 10.000 perorang.

 Sabtu, 28 Mei 2016                                                                                 Pagi : 08:00 Am

Selabintana cukup sekali, kami mulai pendakian jam 08:00, lapor ke posko sembari menerima wejangan dari kepala posko setempat. Kami berkumpul untuk berdoa dan pemanasan, sementara beberapa penjaga pos memeriksa simaksi yang sudah kami persiapkan. Bersama dengan grup pendakian yang berjumlah kurang lebih 25 orang kami bergerak untuk memulai pendakian Gn gede.

jalur-salabintana-gede-pangrango
Peta jalur Pendakian selabintana

DSC01295

 

2016_0527_19594500

Memasuki jalur pendakian, kami di disuguhi dengan ranting pepohonan yang cukup menghalangi perjalanan, menelusuri punggungan dengan kontur menanjak tajam, hampir tidak ada yang datar. Sambutan yang luar biasa SELABINTANA. Sepi hanya kami bertujuh, keringat yang mengucur deras, membasahi tiap lekukan tubuh yang seksi, basah karena humus yang lembab dan yang paling luar biasa sepanjang perjalanan banyak ditemui PACET  yang mengelinjang (^_^).

20160529_102038

Ari dengan sigap mengeluarkan minyak sereh yang ampuh untuk menghalau serangan pacet yang sangat aduhai di pelipis pohon kayu besar berakar. Sebelum berangkat pun saya sempat mengolesi minyak sereh di seluruh bagian tubuh yang terbuka walaupun minyak ini beraroma  seperti minyak nenek nenek jaman dahulu kala ( Minyak nek lampir ), hahaha jadi para pacet sirna luluh lantah.

2016_0528_01180400

pondok cigeber

Pukul 12:00 am kami beristirahat dilahan yang lumayan datar berada dipunggungan cigeber. Dengan menggelar tikar kami pun beristirahat makan dengan bekal yang telah kami persiapakan sebelum kami berangkat tadi pagi. Satu jam beristirahat tak satupun pendaki yang lewat  melewati jalur selabintana. Dengan jalaur yang wassalam wajar sepi pendaki yang melewati selabinta. emng selabinta yang sangat luar biasa.  😦 😦

 2016_0527_22153400Para teman yang bercanda dengan senyum yang membuat perjalanann penuh semangat, nutrijel yang membantu kami dari kehausan, dan lucunya akmal mengeluarkan sebungkus plastik kecil yang berisi dodol picnik, hehe,sungguh mengesankan. Kepikiran ya bawa dodol!!! tau gitu saya bakalan bawa ubi cilembu ,,hahahah

Dari puncak cigeuber jalan kami lanjutkan berupa jalan menurun sempit, disitu ada pita police line, sepertinya daerah penangkaran margasatwa. Konon beberapa dari blog yang pernah saya baca, disini ada beberapa harimau. SELABINTANA ADUHAI ANCOL ❤

2016_0528_22130800

2016_0528_04282900

20160528_085128

Tidak ada yang saling egois untuk mendahului, bahkan seringkali saya ditunggu beberapa teman karena jauh ketinggalan. Perjalanan masih panjang, hanya saja kaki sedikit pegal, dan sesaat saya hampir menyerah,sudah ngak sanggup (Malu mengingat), Akmal, yohana, arie, dan wirna menjadi team terdepan dan saya, hendri dan kamal team back tengah. Sesekali saya selalu menggoda hendri,, masih jauhkan ?? selalu beribu pertanyaan dan harapan akan segera sampai di surya kencana.

Menyerah..hampir jam 3 sore kami pun masih belum sampai. Disatu shelter cileutik kami pun beristirahat sejenak meluruskan kaki dan pinggang yang pegel. Disini kami bertemu dengan team yang lain. Berkumpul bersama melepas lelah dari perjalanan panjang yang gilaaaa.Sedikit turun di bawah pos yang sudah roboh ini terdapat sungai yang aliran air nya kecil dan membentuk air terjun mini. Bila tidak terlalu dingin bisa mandi di sungai ini. Di lokasi ini beberapa pendaki bisa beristirahat bersama namun tidak cukup untuk mendirikan 2-3 tenda.

setelah melepas haus kemudian hendri memulai  beralih diposisi terdepan dengan kamal dan yohana. Mereka memilih untuk berangkat terlebih dahulu, biar bisa bikin tenda. akmal, arie, wirna dan saya menyusul setelah beberapa waktu kemudian. Di 1/3 menuju puncak, trek yang kami lewati nyaris gila, dengkul ketemu kepala dan seketika akmal kram dan saya pun selalu bilang ingin menyerah. Untung ada wirna yang bersedia mengantikan carrier dan arie yang selalu menyemangati di garis akhir sambil menawari madu yang membuat tambahan tenaga.ahhhhh sudahhh,,saya tidak ingin mengingat bagaimana kami diterpa badai di sore hari, dan akmal yang hampir masuk ke jurang. Seketika saya makin ingin bilang saya tidak ingin naik gunung 😦

Lagi lagi  hampir per 15 menit saya beritirahat, kaki dan helaan nafas sudah tidak bernyawa untuk bergerak. Sesaat kami bertemu dengan team anggota lain yang juga akan menuju puncak Gn,gede, beberapa diantaranya ada yang tumbang (not me)

Pukul 8 malam menuju Surya Kencana

Menyerah,,saya menyerah, ( gw nyanyi D masiv dulu kali ya )

itulah kata yang selalu saya lontarkan keteman2. Bukan karena apa2, punggung yang mulai kaku telinga mulai berdenging dan baju yang dipakai membuat badan dingin dan kaku. Dipenghujung pendakian saya mendapati trek yang ngak masuk akal, hampir dan nyaris saya kehilangan tenaga, berasa mau pingsan, bepegangan dengan bantuan akar pohon sesekali arie membantu dengan cukup kuat, thanks arie. Madu yang sangat membantu menambah tenaga, 15 menit menuju puncak, untung saya dijemput oleh kamal yang terlebih dahulu sampai, nyaris  mau pingsan.

Pukul 08:30 kami pun sampai di posko penginapan, tenda baru 1 yang dipasang, karena kondisi badai yang cukup membuat sulit untuk mendirikan tenda. Kami mendirikan 2 tenda yang saling berdekatan satu sama lain. Sementara yang lain sibuk mendirikan satu tenda lagi, para srikandi pun sibuk mempersiapkan makan malam. Malam ini dengan menu indomie telur ala padang + nugget dan telur dadar. Setelah tenda siap dipasang, semua bersiap makan malam. Dengan kondisi seadanya, cuaca dingin nan ekstrim, semua makanan cukup laris manis. Efek masuk angin membuat perut saya sedikit ngk enak badan, beberapa alumunium foil, saya balutkan ke badan dan kaki untuk menghindati hipotermia. Coklat hangat, energen jahe dan beberapan minuman hangat lainnya, habis kami lahap.

( ana, wirna masih sibuk ngobrol asik,,sementara saya lansung berbaring tidur) dan malam semakin larut menuju fajar.

Malam yang dingin seribu cerita selabinta, serinai senja, angin malam yang membelai kulit, disini memilih rindu untuk berkisah selabintana.

Total perjalanan yang kami tempuh dengan tracking sepanjang 11 km dengan waktu tempuh 12-13jam dengan jalur berupa 70% tanjakan naik , 15% tanjakan landai , 15 % menuju puncak tanjakan tajam tanpa ampun.

2016_0528_23200800

Terimakasih Selabintana, medan yang tragis, pengorbanan jalan 13 jam, pacet yang siap menghisap darah, Punggungan bukit yang terjal, Bibir jurang yang curam, Badai Selabintana, Tanjakan tajam, kapok untuk kesini. Ngak lagi2

Selabintana Nan elok, jalurmu tidaklah salah, hanya kami sedikit keliru, ceritamu tidak menakutkan, berkesan dalam 13 jam perjalanan. Tapi kesini bukan alasan untuk kembali ❤

berlanjut ya, karena penulis cukup lelah mengutarakan isi hati diselabintana 🙂 🙂

Posted in Travelling

Pagi di rancabali ~ Glamping lakeside & Phinisi

IMG_0031ide datang  setelah ajakan untuk ekplore bandung bagian selatan ( Rancabali) oleh sohib akmal ( kamal). Ide gila untuk menghilangkan kebosanan akibat kurang piknik ( butuh vacation)

Next..

Akses menuju Glamping Lakeside  ❤IMG_0005

Berangkat pukul 6:00 pagi  dari dago kami menelusuri jalan Kopo, soreang. ciwidey dan rancabali. Jalanan masih cukup lengang dan sepi. untuk yang pertama kali melewati kopo, disarankan berangkat lebih pagi, karena akan memakan waktu lebih lama karena macet di daerah kopo dan sekitarnya.

dari bandung bisa melewati leuwipanjang-ciwidey, dan bisa juga menggunakan motor dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.

dari ciwidey masih 21 km menuju rancabali, lumayan bikin pinggang pegel. Setelah memasuki kecamatan rancaupas, kami disuguhi perkebunan teh yang berjejer indah mengikuti perbukitan patuha. Perbukitan yang hijau dan sangat asri.

IMG_0012

setelah melewati beberapa tanjakan dan turunan sampailah kami di depan gerbang, glamping sidelake di rancabali. gerbangnya cukup besar, sebelah kanan dari arah ciwidey dan sebelum gerbang Rancaupas.Teman2 yang kesini ngk bakalan kesasar, karena petunjuk arah cukup imformatif.

Dari gerbang menuju  glamping cukup jauh, luamayan sekitar 5 km. Jalanan masih dalam tahap pembangunan, masih bebatuan yang belum diaspal dan sepertinya akan segera rampung. Pemandangan perkebunan teh yang bersanding cantik dengan situ patenggang menambah keindahan wisata disini.

Phinisi Resto

Phinisi resto ini terdiri dari 2 lantai, lantai pertama berisi resto yang masih dalam tahap pembangunan, dan lantai kedua tempat para hunting foto yang berlatar situ patenggang. Fasilitas masih minim, dengan menu seadanya.

IMG_0123Area : Parkir luar glamping

area parkir  cukup luas, dari parkiran terlihat beberapa jalanan  blok yang masih dalam tahap pembangunan. Fasiltas kamar mandi yang cukup baik

naik ke bagian phinisi disuguhi situpatenggang yang cantik, dan perbukitan patuha yang berjejer indah

IMG_0093       area lantai 2 Phinisi resto lantai

IMG_0023      area lantai 1  Phinisi resto lantai

IMG_0023

Gambar : Resto Phinisi

IMG_0110

*SituPatenggang

setelah puas memutari resto phinisi saya kebagian bawah yang mana terdapat situpatenggang yang begitu indah. beberapa pendatang berperahu mengintari situpatenggang.

IMG_0112

*Perkebunan Teh Walini ~ PTPN VIII RancaUpas

perkebunan teh yang cukup luas, hamparan yang sangat indah memukau mata. Para petani sibuk memetik pucuk teh yang sudah ranum. terlihat indah. Panorama yang begitu asri yang menambah keelokan rancaupas. Disini juga juga dapat berkunjung ke pabrik Teh.

Perkebunan teh

IMG_0139

Karcis Masuk Glamping lake Side 

Masuk  ke area glamping kita mesti membeli Tiket seharga Rp 20.000 per orang dan parkir sewa motor  Rp 3000.untuk bisa masuk ke Pinisi Resto kita harus melakukan deposit di semacam magnetik card minimal 10.000 idr yang nantinya digunakan untuk alat pembayaran di dalam Pinisi Resto

Akses kemudahan :

*Dengan menggunakan mobil pribadi/motor bisa tracking by GPS ( klik: Maps )

Tol Kopo >> Jl. Raya Kopo >> Jl. Raya Soreang Kopo >> Jl, Raya Ciwidey >> Jl. Raya Ciwidey Rancabali.

*Dengan menggunakan Angkutan umum

naik  dari leuwipanjang – ciwidey- rancabali